Rabu, 03 Oktober 2012

askep infertilitas


MAKALAH
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFERTILITAS
(Memenuhi Tugas Sist. Reproduksi I)

Description: STIKES Muhammadiyah.bmp

Dosen Pembimbing:
Ns. Diah Eko Martini M. Kep

Disusun oleh:
1.        Firdausi Nur C
2.        Popy Susetyo
10.02.01.0658
10.02.01.0676






Semester 5/B
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
STIKES MUHAMMADIYAH LAMONGAN
2012/2013

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.
Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT Yang Maha Esa karena atas Rahmat dan Karunia-Nyalah, kami selaku penulis makalah yang berjudul ”Konsep Asuhan Keperawatan Klien Dengan Infertilitas” yang mana makalah ini sebagai salah satu tugas Sistem Reproduksi I, Alhamdulillah dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Maka dengan terselesainya makalah ini, kami selaku penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih yang sebanyak – banyaknya kepada:
1.      Drs H.Budi Utomo,Amd.Kep.M.Kes, selaku ketua STIKES Muhammadiyah Lamongan.
2.      Arifal Aris S.Kep,Ns M.Kes, selaku ketua prodi S1 KEPERAWATAN STIKES Muhammadiyah Lamongan.
3.      Ns. Diah Eko Martini M., Kep selaku dosen Mata Kuliah Sistem Reproduksi I
4.      Dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun sehingga dapat digunakan untuk membantu perbaikan mendatang dan atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb

Lamongan,  September  2012


Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I  PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan ................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1. Pengertian............................................................................................ 3
2.2  Klasifikasi............................................................................................ 3
2.3. Etiologi ............................................................................................... 3
2.4. Patofisiologi......................................................................................... 9
2.5. Manifestasi Klinik................................................................................ 12
2.6. Syarat- Syarat Pemeriksaan Infertil..................................................... 13
2.7. Pemeriksaan Diagnostik....................................................................... 13
2.8. Penatalaksanaan................................................................................... 15
2.9  Pengobatan Infertilitas......................................................................... 16
2.10 Teknik Mengatasi infertilitas.............................................................. 19
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1. Pengkajian............................................................................................ 21
3.2. Diagnosa keperawatan......................................................................... 25
3.3. Rencana Asuhan Keperawatan............................................................ 25
BAB IV PENUTUP
4.1. Kesimpulan ......................................................................................... 32
4.2. Saran ................................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sekalipun gerakan keluarga berencana telah digalakkan  dengan gencar, tetapi ada sebagian kecil masyarakat sangat mendambakan keturunan karena telah cukup waktu untuk menunggunya namun belum berhasil. Diperkirakan jumlah mereka sekitar 10 % pasangan usia subur atau kurang sama dengan 7-8 juta orang. Kerisauan mereka menyebabkan mereka sangat gelisah, dan terus berusaha dan dapat berkali-kali berganti dokter yang didengarnya telah berhasil dalam menolong mereka yang mendambakan kehamilan.      Infertilitas didefinisikan sebagai kegagalan mengandung setelah 1 tahun berusaha hamil. Infertil primer menunjuk pada pasien yang belum pernah hamil sama sekali. Infertil sekunder digunakan untuk pasien yang pernah hamil sebelumnya (Benson, 2008).
Insiden infertilitas meningkat (sekitar 100 % selama 20 tahun terakhir) di negara-negara maju karena meningkatnya PMS (terutama gonore dan klamidia yang kemudian menyebabkan kerusakan tuba), meningkatnya jumlah mitra seksual (meningkatnya kemungkinan mendapat PMS), sengaja menunda kehamilan , penggunaan kontrasepsi dan merokok ( > 1bungkus per hari menurunkan kesempatan hamil sebesar > 20 %). Infertilitas menyebabkan 10 -20 % dari semua kunjungan ke bagian ginekologi.
Angka fertilitas ditentukan dengan menggunakan fekundibilitas (kemungkinan hamil 1 bulan paparan) hanya 25% pasangan muda sehat yang sering melakukan hubungan seksual akan hamil perbulan (60% per 6 bulan, 75% per 9 bulan dan 90% per 18 bulan). Fekundibilitas menurun dengan meningkatnya umur dan efeknya kurang jelas pada wanita dibanding pria. Pada umur 36-37 tahun kemungkinan hamil kurang dari separuh dibandingkan pada umur 25-27 tahun.
Penanganan pasangan mandul atau kurang subur merupakan masalah medis yang kompleks dan menyangkut beberapa disiplin ilmu kedokteran, sehingga memerlukan konsultasi dan pemeriksaan yang kompleks pula. Penilaian yang cermat harus dapat mengenali kemungkinan penyebab 85%-90% kasus infertilitas. Yang membahagiakan meskipun tanpa diberikan terapi, 15-20% pasangan infertil dapat diharapkan hamil sejalan dengan waktu, tetapi selain fertilisasi in vitro (IVF) dapat menyebabkan kehamilan pada 50%-60% kasus.
Melihat fenomena di atas, penulis tertarik untuk membuat konsep asuhan keperawatan klien dengan infertilitas.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan beberapa rumusan masalah yang akan dibahas pada bab selanjutnya:
1.      Bagaimana tinjauan teori dari infertilitas?
2.      Bagaimana konsep asuhan keperawatan klien dengan infertilitas?

1.3  Tujuan
1.3.1        Tujuan umum
Mengetahui tentang konsep asuhan keperawatan klien dengan infertiitas dan memahami konsep medisnya.
1.3.2        Tujuan khusus
1.      Mengetahui pengertian dari infertiitas
2.      Mengetahui klasifikasi dari infertiitas
3.      Mengetahui etiologi dari infertiitas
4.      Mengetahui patofisiologi dari infertiitas
5.      Mengetahui manifestasi klinis dari infertiitas
6.      Mengetahui syarat-syarat pemeriksaan infertiitas
7.      Mengetahui pemeriksaan diagnostik dari infertiitas
8.      Mengetahui penatalaksanaan dari infertiitas
9.      Mengetahui pengobatan dari infertiitas
10.  Mengetahui konsep asuhan keperawatan klien dengan infertiitas



BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1             Pengertian
Infertilitas merupakan suatu ketidakmampuan pasangan untuk mencapai kehamilan setelah 1 tahun hubungan seksual tanpa pelindung (Keperawatan Medikal Bedah).
 Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak. (Sarwono, 2000).
Infertilitas berarti melaksanakan tugas dan upaya selama 1 tahun belum berhasil hamil dengan situasi rumah tangga normal (Manuaba, 2001).
Definisi tradisional gasnggusn fertilitas adalah ketidakmampuan untuk mengandung setelah sekurang-kurangnya satu tahun melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan (Bobak, 2006).

2.2       Klasifikasi Infertilitas
Infertilitas terdiri dari 2 macam, yaitu:
1)             Infertilitas primer yaitu jika perempuan belum berhasil hamil walaupun koitus teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut.
2)             Infertilitas sekunder yaitu disebut infertilitas sekunder jika perempuan pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak berhasil hamil lagi walaupun koitus teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan berturut-turut.

2.3       Etiologi Infertilitas
1)             Penyebab infertilitas pada perempuan (istri)
a.              Faktor penyakit
-                      Endometriosis
Endometriosis adalah jaringan endometrium yang semestinya berada di lapisan paling dalam rahim (lapisan endometrium) terletak dan tumbuh di tempat lain. Endometriosis bisa terletak di lapisan tengah dinding rahim (lapisan myometrium) yang disebut juga adenomyosis, atau bisa juga terletak di indung telur, saluran telur, atau bahkan dalam rongga perut.
Gejala umum penyakit endometriosis adalah nyeri yang sangat pada daerah panggul terutama pada saat haid dan berhubungan intim, serta tentu saja infertilitas.
-                    Infeksi Panggul
Infeksi panggul adalah suatu kumpulan penyakit pada saluran reproduksi wanita bagian atas, meliputi radang pada rahim, saluran telur, indung telur, atau dinding dalam panggul.
Gejala umum infeksi panggul adalah: nyeri pada daerah pusar ke bawah (pada sisi kanan dan kiri), nyeri pada awal haid, mual, nyeri saat berkemih, demam, dan keputihan dengan cairan yang kental atau berbau.
Infeksi panggul memburuk akibat haid, hubungan seksual, aktivitas fisik yang berat, pemeriksaan panggul, dan pemasangan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim, misalnya: spiral).
-                    Mioma Uteri
Mioma uteri adalah tumor (tumor jinak) atau pembesaran jaringan otot yang ada di rahim. Tergantung dari lokasinya, mioma dapat terletak di lapisan luar, lapisan tengah, atau lapisan dalam rahim. Biasanya mioma uteri yang sering menimbulkan infertilitas adalah mioma uteri yang terletak di lapisan dalam (lapisan endometrium).
Mioma uteri biasanya tidak bergejala. Mioma aktif saat wanita dalam usia reproduksi sehingga saat menopause mioma uteri akan mengecil atau sembuh.
-                    Polip
Polip adalah suatu jaringan yang membesar dan menjulur yang biasanya diakibatkan oleh mioma uteri yang membesar dan teremas-remas oleh kontraksi rahim. Polip dapat menjulur keluar ke vagina. Polip menyebabkan pertemuan sperma-sel telur dan lingkungan uterus terganggu, sehingga bakal janin akan susah tumbuh.
-                    Kista
Kista adalah suatu kantong tertutup yang dilapisi oleh selaput (membran) yang tumbuh tidak normal di rongga maupun struktur tubuh manusia. Terdapat berbagai macam jenis kista, dan pengaruhnya yang berbeda terhadap kesuburan. Hal penting lainnya adalah mengenai ukuran kista. Tidak semua kista harus dioperasi mengingat ukuran juga menjadi standar untuk tindakan operasi. Jenis kista yang paling sering menyebabkan infertilitas adalah sindrom ovarium polikistik.
Penyakit tersebut ditandai amenore (tidak haid), hirsutism (pertumbuhan rambut yang berlebihan, dapat terdistribusi normal maupun tidak normal), obesitas, infertilitas, dan pembesaran indung telur. Penyakit ini disebabkan tidak seimbangnya hormon yang mempengaruhi reproduksi wanita.
-                    Saluran Telur yang Tersumbat
Saluran telur yang tersumbat menyebabkan sperma tidak bisa bertemu dengan sel telur sehingga pembuahan tidak terjadi alias tidak terjadi kehamilan.
Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui saluran telur yang tersumbat adalah dengan HSG (Hystero Salpingo Graphy), yaitu semacam pemeriksaan rontgen (sinar X) untuk melihat rahim dan saluran telur.
-                    Sel Telur
Kelainan pada sel telur dapat mengakibatkan infertilitas yang umumnya merupakan manifestasi dari gangguan proses pelepasan sel telur (ovulasi). Delapan puluh persen penyebab gangguan ovulasi adalah sindrom ovarium polikistik. Gangguan ovulasi biasanya direfleksikan dengan gangguan haid. Haid yang normal memiliki siklus antara 26-35 hari, dengan jumlah darah haid 80 cc dan lama haid antara 3-7 hari. Bila haid pada seorang wanita terjadi di luar itu semua, maka sebaiknya untuk periksa ke dokter.
b.             Faktor fungsional
-                    Gangguan system hormonal wanita dan dapat di sertai kelainan bawaan (immunologis)
Apabila embrio memiliki antigen yang berbeda dari ibu, maka tubuh ibu memberikan reaksi sebagai respon terhadap benda asing. Reaksi ini dapat menyebabkan abortus spontan pada wanita hamil.
-                    Gangguan pada pelepasan sel telur (ovulasi)
Ovulasi atau proses pengeluaran sel telur dari ovarium terganggu jika terjadi gangguan hormonal. Salah satunya adalah polikistik. Gangguan ini diketahui sebagai salah satu penyebab utama kegagalan proses ovulasi yang normal.
Ovarium polikistik disebabkan oleh kadar hormon androgen yang tinggi dalam darah. Kadar androgen yang berlebihan ini mengganggu hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dalam darah. Gangguan kadar hormon FSH ini akan mengkibatkan folikel sel telur tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga pada gilirannya ovulasi juga akan terganggu.
-                    Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran telur)
Dalam keadaan normal, pada leher rahim terdapat lendir yang dapat memperlancar perjalanan sperma. Jika produksi lendir terganggu, maka perjalanan sperma akan terhambat. Sedangkan jika dalam rahim, yang berperan adalah gerakan di dalam rahim yang mendorong sperma bertemu dengan sel telur matang. Jika gerakan rahim terganggu, (akibat kekurangan hormon prostaglandin) maka gerakan sperma melambat. Terakhir adalah gangguan pada saluran telur. Di dalam saluran inilah sel telur bertemu dengan sel sperma. Jika terjadi penyumbatan di dalam saluran telur, maka sperma tidak bisa membuahi sel telur. Sumbatan tersebut biasanya disebabkan oleh penyakit salpingitis, radang pada panggul (Pelvic Inflammatory Disease) atau penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur klamidia.
Kelainan pada uterus, misalnya diakibatkan oleh malformasi uterus yang mengganggu pertumbuhan fetus, mioma uteri dan adhesi uterus yang menyebabkan terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus dan akhirnya terjadi abortus berulang. Kelainan tuba falopii akibat infeksi yang mengakibatkan adhesi tuba falopii dan terjadi obstruksi sehingga ovum dan sperma tidak dapat bertemu.
-                    Gangguan implantasi hasil konsepsi dalam Rahim
Setelah sel telur dibuahi oleh sperma dan seterusnya berkembang menjadi embrio, selanjutnya terjadi proses nidasi (penempelan) pada endometrium. Perempuan yang memiliki kadar hormon progesteron rendah, cenderung mengalami gangguan pembuahan. Diduga hal ini disebabkan oleh antara lain karena struktur jaringan endometrium tidak dapat menghasilkan hormon progesteron yang memadai
c.               Lingkungan
Paparan radiasi dalam dosis tinggi, asap rokok, gas ananstesi, zat kimia, dan pestisida dapat menyebabkan toxic pada seluruh bagian tubuh termasuk organ reproduksi yang akan mempengaruhi kesuburan
2)             Penyebab pada laki-laki (suami)
a.              Kelainan pada alat kelamin
-                    Hipospadia yaitu muara saluran kencing letaknya abnormal, antara lain pada permukaan testis
-                    Ejakulasi retrograd yaitu ejakulasi dimana air mani masuk kedalam kandung kemih
-                    Varikokel yaitu suatu keadaan dimana pembuluh darah menuju bauh zakar terlalu besar, sehingga jumlah dan kemampuan gerak spermatozoa berkurang yang berarti mengurangi kemampuannya untuk menimbulkan kehamilan
-                    Testis tidak turun dapat terjadi karena testis atrofi sehingga tidak turun
b.             Kegagalan fungsional
-                    Kemampuan ereksi kurang
-                     Kelainan pembentukan spermatozoa
-                     Gangguan pada sperma
c.               Gangguan di daerah sebelum testis (pretesticular)
Gangguan biasanya terjadi pada bagian otak, yaitu hipofisis yang bertugas mengeluarkan hormon FSH dan LH. Kedua hormon tersebut mempengaruhi testis dalam menghasilkan hormon testosteron, akibatnya produksi sperma dapat terganggu serta mempengaruhi spermatogenesis dan keabnormalan semen Terapi yang bisa dilakukan untuk peningkatan testosterone adalah dengan terapi hormon.
d.             Gangguan di daerah testis (testicular)
Kerja testis dapat terganggu bila terkena trauma pukulan, gangguan fisik, atau infeksi. Bisa juga terjadi, selama pubertas testis tidak berkembang dengan baik, sehingga produksi sperma menjadi terganggu. Dalam proses produksi, testis sebagai “pabrik” sperma membutuhkan suhu yang lebih dingin daripada suhu tubuh, yaitu 34–35 °C, sedangkan suhu tubuh normal 36,5–37,5 °C. Bila suhu tubuh terus-menerus naik 2–3 °C saja, proses pembentukan sperma dapat terganggu.
e.               Gangguan di daerah setelah testis (posttesticular)
Gangguan terjadi di saluran sperma sehingga sperma tidak dapat disalurkan dengan lancar, biasanya karena salurannya buntu. Penyebabnya bisa jadi bawaan sejak lahir, terkena infeksi penyakit seperti tuberkulosis (Tb), serta vasektomi yang memang disengaja.
f.                Tidak adanya semen
Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari penis menuju vagina. Bila tidak ada semen maka sperma tidak terangkut (tidak ada ejakulasi). Kondisi ini biasanya disebabkan penyakit atau kecelakaan yang memengaruhi tulang belakang.
g.              Kurangnya hormon testosterone
Kekurangan hormon ini dapat mempengaruhi kemampuan testis dalam memproduksi sperma.
h.             Lingkungan
Pada lingkungan yang sering terkena paparan Radiasi dan obat-obatan anti kanker.
3)             Penyebab pada suami dan istri
a.               Gangguan pada hubungan seksual
Kesalahan teknik sanggama dapat menyebabkan penetrasi tak sempurna ke vagina, impotensi, ejakulasi prekoks, vaginismus, kegagalan ejakulasi, dan kelainan anatomik seperti hipospadia, epispadia, penyakit Peyronie.
b.              Factor psikologis antara kedua pasangan (suami dan istri)
1)             Masalah tertekan karena sosial ekonomi belum stabil
2)             Masalah dalam pendidikan
3)              Emosi karena didahului orang lain hamil

2.4       Patofisiologi
1)             Perempuan
Beberapa penyebab dari gangguan infertilitas dari wanita diantaranya gangguan stimulasi hipofisis hipotalamus yang mengakibatkan pembentukan FSH dan LH tidak adekuat sehingga terjadi gangguan dalam pembentukan folikel di ovarium.
Penyebab lain yaitu radiasi dan toksik yng mengakibatkan gangguan pada ovulasi. Gangguan bentuk anatomi sistem reproduksi juga penyebab mayor dari infertilitas, diantaranya cidera tuba dan perlekatan tuba sehingga ovum tidak dapat lewat dan tidak terjadi fertilisasi dari ovum dan sperma. Kelainan bentuk uterus menyebabkan hasil konsepsi tidak berkembang normal walapun sebelumnya terjadi fertilisasi. Abnormalitas ovarium, mempengaruhi pembentukan folikel. Abnormalitas servik mempegaruhi proses pemasukan sperma.
Faktor lain yang mempengaruhi infertilitas adalah aberasi genetik yang menyebabkan kromosom seks tidak lengkap sehingga organ genitalia tidak berkembang dengan baik. 

Beberapa infeksi menyebabkan infertilitas dengan melibatkan reaksi imun sehingga terjadi gangguan interaksi sperma sehingga sperma tidak bisa bertahan, infeksi juga menyebebkan inflamasi berlanjut perlekatan yang pada akhirnya menimbulkan gangguan implantasi zigot yang berujung pada abortus.
2)             Laki-laki
Abnormalitas androgen dan testosteron diawali dengan disfungsi hipotalamus dan hipofisis yang mengakibatkan kelainan status fungsional testis. Gaya hidup memberikan peran yang besar dalam mempengaruhi infertilitas dinataranya merokok, penggunaan obat-obatan dan zat adiktif yang berdampak pada abnormalitas sperma dan penurunan libido. Konsumsi alkohol mempengaruhi masalah ereksi yang mengakibatkan berkurangnya pancaran sperma. Suhu disekitar areal testis juga mempengaruhi abnormalitas spermatogenesis. Terjadinya ejakulasi retrograt misalnya akibat pembedahan sehingga menyebebkan sperma masuk ke vesika urinaria yang mengakibatkan komposisi sperma terganggu.



Inflamasi berlanjut perlengkatan
infeksi
Gg bentuk anatomi system reproduksi
Radiasi dan toksik
Gg stimulasi hipofisis, hipotalamus
pathway
Gg implantasi zigot
abortus
Pembentukan FSH dan LH tidak kuat
Gg dlm pembentukan folikel ovarium
Abnormalitas ovarium
Gg pd ovulasi
Ovum tidak dpt lewat
Tdk trjd fertilitas dr ovum&sperma
Gg interaksi sperma
Sperma tidak bertahan
infertilitas
Gg kosep diri: HDR
Metode investigasi fertilitas
Resti kerusakan koping individu
Tes diagnostik
Nyeri akut
ansietas
Prognosis buruk
Kurang control trhdp prognosis
ketidakberdayaan
berduka





2.5       Manifestasi Klinis
1)             Perempuan
-                    Terjadi kelainan system endokrin
-                    Hipominore dan amenore
-                    Diikuti dengan perkembangan seks sekunder yang tidak adekuat menunjukkan masalah pada aksis ovarium hipotalamus hipofisis atau aberasi genetik
-                    Wanita dengan sindrom turner biasanya pendek, memiliki payudara yang tidak berkembang,dan gonatnya abnormal
-                    Wanita infertil dapat memiliki uterus
-                    Motilitas tuba dan ujung fimbrienya dapat menurun atau hilang akibat infeksi, adhesi, atau tumor
-          Traktus reproduksi internal yang abnormal
2)             Laki-laki
-                    Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas, radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi)
-                    Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu
Riwayat infeksi genitorurinaria
-                    Hipertiroidisme dan hipotiroid
-                    Tumor hipofisis atau prolactinoma
-                    Disfungsi ereksi berat
-                    Ejakulasi retrograt
-                    Hypo/epispadia
-                    Mikropenis
-                    Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha
-                    Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma)
-                    Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
-                    Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)
-                    Abnormalitas cairan semen

2.6       Syarat-syarat Pemeriksaan Infertil
Menurut Wikjosastro (2002), syart pemeriksaan infertil antara lain :
1.              Istri yang berumur antar 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha untuk mendapatkan anak selama 12 bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini apabila : pernah mengalami keguguran berulang, diketahui mengidap kelainan endokrin, pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perut dan pernah mengalami bedah ginekologi.
2.              Istri yang berumur 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama pasangan itu datang ke dokter.
3.              Istri pasangan infertil yang berumur antara 36-40 tahun hanya dilakukan pemeriksaaan infertilitas kalau belum mempunyai anak dari perkawinanya ini.
4.              Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah satu pasangannya mengidap penyakit membahayakan kesehatan istri atau anaknya.

2.7       Pemeriksaan Diagnostic
a.               Pemeriksaan fisik:
-                    Hirsutisme diukur dengan skala ferryman dan gallway, jerawat
-                    Pembesaran kel tiroid
-                    Galaktorea
-                    Inspeksi lender serviks di tunjukan dengan kualitas mucus
-                    PDV untuk menunjukan adanya tumor uterus/ adneksa
b.              Pemeriksaan penunjang
a)             Analisis sperma
Pengeluaran sperma dapat dilakukan di laboratorium yang menyedian tempat untuk pasien mengeluarkan sperma. Pengeluaran juga dapat dilakukan dirumah bila pasien bisa membawa specimen dari waktu dikeluwarkan sampai dilaboratorium kurang dari 30 menit. Pasien diminta untuk menahan ejakulasi kurang lebih 3 hari sebelum pemeriksaan. Hasil pemeriksaan normal analisis sperma menurut WHO adalah sebagai berikut: Volume 2-5 cc, Jumlah  > 20 juta/ml; Motilitas > 50%; Morfologi > 40% normal; likuefaksi: 15-30 menit.
Bila dijumpai hasil analisis sperma yang kurang atau kurang baik, maka biasanya diperlukan pemeriksaan ulang 1 minggu sesudahnya pada keadaan yang lebih sehat/ nyaman guna mengkonfirmasi hal tersebut. Perlu diingat bahwa apapun hasil analis sperma, sangat berguna untuk penentuan terapi, tindakan, dan pemilihan penatalaksanaan infertilitas.
b)            Deteksi ovulasi
-                    Anamnesis siklus menstruasi, 90 % siklus menstrusi teratur :siklus ovulatoar 
-                    Peningkatan suhu badan basal, meningkat 0,6 - 1C setelah ovulasi : Bifasik 
-                    Uji benang lendir serviks dan uji pakis, sesaat sebelum ovulasi : lendir serviks encer,daya membenang lebih panjang, pembentukan gambaran daun pakis dan terjadi Estradiol meningkat
c)              Hormonal : FSH, LH, E2, Progesteron, Prolaktin
Setelah semua pemeriksaan dilakukan, bila belum dapat memberikan tentang sebab infertilitas, dapat dilakukan pemeriksaan hormonal untuk mengetahui keterangan tentang hubungan hipotalamus dengan hipofise dan ovarial aksis. Hormon yang diperiksa adalah gonadotropin (follicle stimulation hormone (FSH), hormone luteinisasi (LH), dan hormone (estrogen dan progesterone, prolaktin). Pemeriksaan hormonal ini diharapkan dapat  menerangkan kemungkinan infertilitas dari  kegagalannya melepaskan telur (ovulasi). Demikian rancangan pemeriksaan diharapkan dapat selesai dalam waktu tiga siklus menstruasi, sehingga rencana pengobatan dapat dilakukan. Oleh karena itu pasangan infertilitas diharapkan mengikuti rancangan pemeriksaan sehingga kepastian penyebabnya dapat ditegakkan sebagai titik awal pengobatan selanjutnya.
FSH serum: 10-60 mIU/ml
LH serum: 15-60 mIU/ml
Estradiol: 200-600 pg/ml
Progesterone: 5-20 mg/ml
Prolactin: 2-20 mg/ml
d)            Sitologi vagina
Pemeriksaan usap forniks vagina untuk mengetahui perubahan epitel vagina
e)              Uji pasca senggama
Pemeriksaan uji pasca senggama dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan tembus spermatozoa menyerbu lender serviks. Caranya dianjurkan melakukan hubungan seks dirumah dan setelah dua jam, dating kerumah sakit untuk pemeriksaan. Lendir serviksdimbil dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan jumlah spermatozoa yang dijumpai dilendir tersebut. Pemeriksaan ini dilakukan sekitar perkiraan masa ovulasi yaitu hari ke-12. 13, dan 14 dengan perhitungan menstruasi pertama dianggap hari pertama. Hasilnya masih belum mendapat kesepakatan para ahli.
f)               Biopsy endometrium terjadwal
Mengetahui pengaruh progesterone terhadap endometrium dan sebaiknya dilakukan pada 2-3 hr sebelum haid.
g)             Histerosalpinografi
Radiografi kavum uteri dan tuba dengan pemberian materi kontras. Disini dapat dilihat kelainan uterus, distrosi rongga uterus dan tuba uteri, jaringan parut dan adesi akibat proses radang. Dilakukan secara terjadwal.
h)            Laparoskopi
Standar emas untuk mengetahui kelainan tuba dan peritoneum.
i)                 Pemeriksaan pelvis ultrasound
Untuk memvisualisasi jaringan pelvis, misalnya untuk identifikasi kelainan, perkembangan dan maturitas folikuler, serta informasi kehamilan intra uteri
j)        Analisa Semen
-          Analisis semen merupakan tes untuk mengukur jumlah semen dan sperma seorang pria. Semen merupakan cairan berwarna putih kental berisis sperma yang dilepaskan saat ejakulasi. Pengumpulan sperma dapat diambil melalui  masturbasi untuk kemudian dimasukkan ke dalam container steril juga dapat dikumpulkan selama persenggamaan dengan menggunakan kondom khusus.
-          Persiapan khusus yang harus dilakukan untuk pemeriksaan ini adalah tidak melakukan aktivitas seksual yang menyebabkan ejakulasi dalam 2-3 hari sebelum tes. Tes ini pentin untuk mengevaluasi fertilitas seorang pria. Dengan tes ini dapat ditentukan apakah permasalahannya karena gangguan reproduksi atau kualitas sperma yang menyebabkan infertilitas. Selain itu pemeriksaan kesuburan, tes ini juga bisa dilakukan setelah vasektomi untuk memastikan bahwa tidak ada sperma dalam semen.
-          Parameter Warna Putih keruh
-          Bau Bunga akasia
-            PH 7,2 - 7,8
-          Volume 2 - 5 ml
-           Viskositas 1,6 – 6,6 centipose
-           Jumlah sperma 20 juta / ml
-           Sperma motil > 50%
-          Bentuk normal > 60%
-           Kecepatan gerak sperma 0,18-1,2 detik
-            persentase gerak sperma motil > 60%
-          Aglutasi Tidak ada
-          Sel-sel Sedikit,tidak ada
-          Uji fruktosa 150-650 mg/dl
k)  Pemeriksaan endokrin
Pemeriksaan ini berguna untuk menilai kembali fungsi hipothalamus, hipofisis jika kelainan ini diduga sebagai penyebab infertilitas. Uji yang dilakukan bertujuna untuk menilai kadar hormon tesrosteron, FSH, dan LH.
l)        USG transvaginal
Secara serial: adanya ovulasi dan perkiraan saat ovulasi
Ovulasi: ukuran volikel 18-24m
m)        Biopsi testis
Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan testis memakai metoda invasif untuk mengidentifikasi adanya kelainan patologi
n)            Uji penetrasi sperma
o)             Uji hemizona

2.8       Penatalaksanaan
1)             Perempuan
a.               Pengetahuan tentang siklus menstruasi, gejala lendir serviks puncak dan waktu yang tepat untuk coital
b.                Pemberian terapi obat, seperti;
1.              Stimulant ovulasi, baik untuk gangguan yang disebabkan oleh supresi hipotalamus, peningkatan kadar prolaktin, pemberian tsh .
2.                Terapi penggantian hormon 
3.              Glukokortikoid jika terdapat hiperplasi adrenal
4.              Penggunaan antibiotika yang sesuai untuk pencegahan dan penatalaksanaan infeksi dini yang adekuat
5.              GIFT ( gemete intrafallopian transfer )
6.               Laparatomi dan bedah mikro untuk memperbaiki tuba yang rusak secara luas
7.              Bedah plastic misalnya penyatuan uterus bikonuate, 
8.               Pengangkatan tumor atau fibroid
9.              Eliminasi vaginitis atau servisitis dengan antibiotika atau kemoterapi
2)             Laki-laki
a.        Penekanan produksi sperma untuk mengurangi jumlah antibodi autoimun, diharapkan kualitas sperma meningkat
b.      Agen antimikroba
c.       Testosterone Enantat dan Testosteron Spionat untuk stimulasi kejantanan
d.      HCG secara i.m memperbaiki hipoganadisme
e.       FSH dan HCG untuk menyelesaikan spermatogenesis
f.       Bromokriptin, digunakan untuk mengobati tumor hipofisis atau hipotalamus 
g.      Klomifen dapat diberikan untuk mengatasi subfertilitas idiopatik
h.      Perbaikan varikokel menghasilkan perbaikan kualitas sperma
i.        Perubahan gaya hidup yang sederhana dan yang terkoreksi. Seperti, perbaikan nutrisi, tidak membiasakan penggunaan celana yang panas dan ketat
j.        Perhatikan penggunaan lubrikans saat coital, jangan yang mengandung spermatisida

2.9       Pengobatan infertilitas
Sekitar 50% pasangan infertil dapat berhasil hamil. Hal ini memberikan rasa optimistik baik bagi dokter maupun pasiennya. Tindakan-tindakan diagnostik seringkali pula merupakan rangsangan pengobatan, misalnya pemeriksaan vaginal dan sondase uterus dapat menaikkan laju kehamilan sebesar 10-15%. Uji patensi tuba bersama dengan dilatasi dan kuretase ternyata dapat menggandakan laju pembuahan.
Setiap kelainan yang ditemui selama pemeriksaan selalu perlu diobati. Beberapa jenis pengobatan berdasarkan sebab-sebab infertilitas dapat dilihat sebagai berikut:

Penyebab infertilitas
Jenis pengobatan



Suami
Hidrokel
Aspirasi atau eksisi
Varikokel
Ligasi
Bendungan vasa atau epididimis
Operasi pintas
Oligozoospermia
FSH dan hCG, FIV dengan SSIS
Gangguan spermatogenesis
Hindari berendam air panas dan pemakaian celana ketat








Istri
Tuberkulosis
Tuberkulostatika
Endometriosis
Operasi, koagulasi listrik atau laser, progesteron, danazol, medroksiprogesteron asetat, dehidroretroprogesteron, antiprogestin, anastrosol
Miom uterus operabel
Operasi konservatif
Spasme tuba
Hiosin amilnitrit, triemonium
Obstruksi tuba
Operasi rekonstruksi, FIV
Gangguan ovulasi
Pemicuan ovulasi (klomifen sitrat, epimestrol, tamoksifen, siklofenil, metformin, pioglutazon, hMG/hCG, FSH-murni, GnRH); pelubangan(drilling) ovarium
Keduanya
Idiopatik
Inseminasi buatan, TAGIT, TAPIT, TAZIT, FIV, SSIS, Adopsi

2.10 Teknik mengatasi infertilitas
1)       Inseminasi buatan
Inseminasi buatan atau artificial insemination (sering disingkat sebagai AI) dilakukan dengan memasukkan cairan semen yang mengandung sperma dari priake dalam organ reproduksi wanita tanpa melalui hubungan seks atau bukan secara alami. Cairan semen yang mengandung sperma diambil dengan alat tertentu dari seorang suami kemudian disuntikkan ke dalam rahim isteri sehingga terjadi pembuahan dan kehamilan. Biasanya dokter akan menganjurkan inseminasi buatan sebagai langkah pertama sebelum menerapkan terapi atau perawatan jenis lainnya.
2)       GIFT (Gamete Intrafallopian Transfer)
GIFT yang merupakan singkatan dari Gamete Intrafallopian Transfer merupakan teknik yang mulai diperkenalkan sejak tahun 1984. Tujuannya untuk menciptakan kehamilan. Prosesnya dilakukan dengan mengambil sel telur dari ovarium atau indung telur wanita lalu dipertemukan dengan sel sperma pria yang sudah dibersihkan. Dengan menggunakan alat yang bernama laparoscope, sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan tersebut dimasukkan ke dalam tuba falopi atau tabung falopi wanita melalui irisan kecil di bagian perut melalui operasilaparoskopik. Sehingga diharapkan langsung terjadi pembuahan dan kehamilan.
3)       IVF (In Vitro Fertilization)
IVF atau In Vitro Fertilization dikenal juga sebagai prosedur bayi tabung. Mula-mula sel telur wanita dan sel sperma dibuahi di media pembuahan di luar tubuh wanita. Lalu setelah terjadi pembuahan, hasilnya yang sudah berupa embrio dimasukkan kedalam rahim melalui serviks
4)       ZIFT (Zygote Intrafallopian Transfer)
ZIFT atau Zygote Intrafallopian Transfer merupakan teknik pemindahan zigot atau sel telur yang telah dibuahi. Proses ini dilakukan dengan cara mengumpulkan seltelur dari indung telur seorang wanita lalu dibuahi di luar tubuhnya. Kemudian setelah sel telur dibuahi, dimasukkan kembali ke tuba falopi atau tabung falopi melalui pembedahan di bagian perut dengan operasi laparoskopik. Teknik ini merupakan kombinasi antara teknik IVF dan GIFT.
5)       ICSI (Intracytoplasmic Sperm Injection)
ICSI atau Intracytoplasmic Sperm Injection dilakukan dengan memasukkan sebuah sel sperma langsung ke sel telur. Dengan teknik ini, sel sperma yang kurang aktif  maupun tidak matang dapat digunakan untuk membuahi sel telur.


BAB III
KONSEP  ASUHAN KEPERAWATAN
3.1  PENGKAJIAN
1.    Identitas Klien
Nama, jenis kelamin, suku bangsa / latar belakang kebudayaan, agama, status sipil, pendidikan, pekerjaan dan alamat.
2.    Riwayat Kesehatan
A.    Wanita
a.    Riwayat Kesehatan Dahulu
1)   Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi di rumah
2)   Riwayat infeksi genitorurinaria
3)   Hipertiroidisme dan hipotiroid, hirsutisme
4)   Infeksi bakteri dan virus ex: toksoplasama
5)   Tumor hipofisis atau prolaktinoma
6)   Riwayat penyakit menular seksual
7)   Riwayat kista
b.   Riwayat Kesehatan Sekarang
1)      Endometriosis dan endometrits
2)      Vaginismus (kejang pada otot vagina)
3)      Gangguan ovulasi
4)      Abnormalitas tuba falopi, ovarium, uterus, dan servik
5)      Autoimun
c.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetic
d.   Riwayat Obstetri
1)        Tidak hamil dan melahirkan selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi
2)        Mengalami aborsi berulang
3)        Sudah pernah melahirkan tapi tidak hamil selama satu tahun tanpa alat kontrasepsi

A.  Pria
a.    Riwayat Kesehatan Dahulu
1)      Riwayat terpajan benda – benda mutan yang membahayakan reproduksi (panas, radiasi, rokok, narkotik, alkohol, infeksi)
2)      Status gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu
3)      Riwayat infeksi genitorurinaria
4)      Hipertiroidisme dan hipotiroid
5)      Tumor hipofisis atau prolactinoma
6)       Trauma, kecelakan sehinga testis rusak
7)       Konsumsi obat-obatan yang mengganggu spermatogenesis
8)      Pernah menjalani operasi yang berefek menganggu organ reproduksi contoh : operasi prostat, operasi tumor saluran kemih
9)      Riwayat vasektomi
b.   Riwayat Kesehatan Sekarang
1)      Disfungsi ereksi berat
2)      Ejakulasi retrograt
3)      Hypo/epispadia
4)      Mikropenis
5)      Andesensus testis (testis masih dalam perut/dalam liat paha)
6)      Gangguan spermatogenesis (kelainan jumla, bentuk dan motilitas sperma)
7)      Saluran sperma yang tersumbat
8)      Hernia scrotalis (hernia berat sampai ke kantong testis )
9)      Varikhokel (varises pembuluh balik darah testis)
10)  Abnormalitas cairan semen
c.    Riwayat Kesehatan Keluarga
Memiliki riwayat saudara/keluarga dengan aberasi genetik
B.  Pemeriksaan Fisik
Terdapat kelainan pada organ  genital wanita maupun pria
a.    Pemeriksaan wanita
Ø Pemeriksaan vagina
Masalah vagina yang dapat mengahambat penyimpanan air mani ke dalam vagina sekitar serviks ialah adanya sumbatan atau peradangan. Sumbatan psikogen disebut vaginismus atau disparenia, sedangkan sumbatan anatomik dapat karena bawaan atau perolehan.
Pemeriksaan yang dilakukan adalah sebuah alat yang disebut spekulum, yang dipakai untuk menahan agar vagina terbuka. Kemudian mengambil cairan vagina untuk dianalisa di laboratorium.
Selama pemeriksaan, pasien harus berbaring terlentang dengan lutut terbuka, atau tidur miring dengan lutut ditarik. Pemeriksaan ini tidak memberikan rasa sakit, sehingga pasien dapat santai. Hal itu memungkinkan untuk mengetahui secara jelas apakah ada masalah pada vagina, misalnya bekas infeksi, fibroid, kista indung telur, atau gangguan lain.
Ø Pemeriksaan leher rahim
Pemeriksaan standar leher rahim yang dikenal sebagai PAP Smear (smear test) ini perlu dilakukan 3-5 tahun sekali pada setiap wanita dewasa dengan kehidupan seks yang aktif. Vagina dibuka dengan spekulum dan contoh sel permukaan lehir rahim diambil dengan alat spatula, lalu dibawa ke lab untuk dianalisa, jangan melakukan hubungan seksual, Douche / menggunakan produk pembersih vagina selama 24 jam setelah PAP Smear.
b.   Pemeriksaan Pria
Ø Mengamati kelainan fisik
Dalam kesempatan pemeriksaan fisik dilihat penyebaran rambut dan lemak yang tidak rata, atau konsistensi testis, bisa menjadi tanda akibat ketidakseimbangan hormonal kelainan fisik lain dari alat reproduksi pria yang perlu diperiksa adalah kemungkinan adanya parut atau varises pada scrotum yang dapat mempengaruhi jumlah dan kemampuan bergerak (mobilitas) sperma. Salah satu testis tidak turun (kroptorkismus) berarti memperkecil kemampuan produksi sperma.
Ø Penampungan air mani
Air mani ditampung dengan jalam masturbasi langsung kedalam botol gelas yang bermulut lebar (atau gelas minum), setelah abstensi 3-5 hari. Sebaiknya penampungan dilakukan dirumah kemudian dibawa kelaboratorium dalam 2 jam setelah dikeluarkan.
C.  Pemeriksaan Penunjang
1)   Wanita
a)    Deteksi Ovulasi
b)   Analisa hormone
c)    Sitologi vagina
d)   Uji pasca senggama
e)    Biopsy endometrium terjadwal
f)    Histerosalpinografi
g)   Laparoskopi
h)   Pemeriksaan pelvis ultrasound
2)   Laki-laki 
a)   Analisa Semen
ü  Parameter
ü  Warna Putih keruh
ü  Bau Bunga akasia
ü  PH 7,2 - 7,8
ü  Volume 2 - 5 ml
ü  Viskositas 1,6 – 6,6 centipose
ü  Jumlah sperma 20 juta / ml
ü  Sperma motil > 50%
ü  Bentuk normal > 60%
ü  Kecepatan gerak sperma 0,18-1,2 detik
ü  persentase gerak sperma motil > 60%
ü  Sel – sel Sedikit,tidak ada
ü  Uji fruktosa 150-650 mg/dl
b)   Pemeriksaan endokrin
c)    USG 
d)   Biopsi testis 
e)    Uji penetrasi sperma
f)    Uji hemizona

3.2  DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang akhir proses diagnostic
2.    Gangguan konsep diri ; harga diri rendah berhubungan dengan gangguan fertilitas
3.    Berduka dan antisipasi berhubungan dengan prognosis yang buruk
4.    Nyeri akut berhubungan dengan efek test diagnostic
5.    Ketidakberdayaan berhubungan dengan kurang kontrol terhadap prognosis
6.    Resiko tinggi terhadap kerusakan koping individu / keluarga berhubungan dengan metode yang digunakan dalam investigasi fertilitas

3.3  RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
1)   Dx.1 :
Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang akhir proses diagnostic
Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan ansietas klien berkurang
Kriteria Hasil:
1.      Klien mampu mengungkapkan tentang infertilitas dan bagaimana treatmentnya
2.      Klien memperlihatkan adanya peningkatan kontrol diri terhadap diagnosa infertile
3.      Klien mampu mengekspresikan perasaan tentang infertile

INTERVENSI
RASIONAL
Jelaskan tujuan test dan prosedur
Menurunkan cemas dan takut terhadap diagnosis dan prognosis
Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut, contoh : menolak, depresi, dan marah.
Biarkan pasien / orang terdekat mengetahui ini sebagai reaksi yang normal Perasaan tidak diekspresikan dapat menimbulkan kekacauan internal dan efek gambaran diri
Dorong keluarga untuk menganggap pasien seperti sebelumnya
Meyakinkan bahwa peran dalam keluarga dan kerja tidak berubah
Kolaborasi : berikan sedative, tranquilizer sesuai indikasi
Mungkin diperlukan untuk membantu pasien rileks sampai secara fisik mampu untuk membuat startegi koping adekuat

2)   Dx.2 :
Gangguan konsep diri ; harga diri rendah berhubungan dengan gangguan fertilitas
Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien mengalami perubahan harga diri
Kriteria Hasil:
1.      Klien mampu mengekspresikan perasaan tentang infertile
2.      Terjalin kontak mata saat berkomunikasi
3.      Kliwn mampu Mengidentifikasi aspek positif diri

INTERVENSI
RASIONAL
Tanyakan dengan nama apa pasien ingin dipanggil
Menunjukan kesopan santunan / penghargaan dan pengakuan personal
Identifikasi orang terdekat dari siapa pasien memperoleh kenyaman dan siapa yang harus memberitahuakan jika terjadi keadaan bahaya
Memungkinkan privasi untuk hubungan personal khusus, untuk mengunjungi atau untuk tetap dekat dan menyediakan kebutuhan dukungan bagi pasien
Dengarkan dengan aktif masalah dan ketakutan pasien
Menyampaikan perhatian dan dapat dengan lebih efektif mengidentifikasi kebutuhan dan maslah serta strategi koping pasien dan seberapa efektif
Dorong mengungkapkan perasaan, menerima apa yang dikatakannya
Membantu pasien / orang terdekat untuk memulai menerima perubahan dan mengurangi ansietas mengenai perubahan fungsi / gaya hidup
Diskusikan pandangan pasien terhadap citra diri dan efek yang ditimbulkan dari penyakit / kondisi
Persepsi pasien mengenai perubahan pada citra diri mungkin terjadi secara tiba- tiba atau kemudian

3)   Dx.3 :
Berduka dan antisipasi berhubungan dengan prognosis yang buruk
Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien mampu melakukan mekanisme koping yang baik
Kriteria Hasil:
1.    Klien Menunjukan rasa pergerakan kearah resolusi dan rasa berduka dan harapan untuk masa depan
2.    Klien menunjukkan fungsi pada tingkat adekuat, ikut serta dalam pekerjaan

INTERVENSI
RASIONAL
Berikan lingkungan yang terbuka pasien merasa bebas untuk dapat mendiskusikan perasaan dan masalah secara realitas
kemampuan komunikasi terapeutik seperti aktif mendengarkan, diam, selalu bersedia, dan pemahaman dapat memberikan pasien kesempatan untuk berbicara secara bebas dan berhadapan dengan perasaan
Identifikasi tingkat rasa duka / disfungsi : penyangkalan, marah, tawar - menawar, depresi, penerimaan
Kecermatan akan memberikan pilihan intervensi yang sesuai pada waktu induvidu menghadapi rasa berduka dalam berbagai cara yang berbeda
Dengarkan dengan aktif pandangan pasien dan selalu sedia untuk membantu jika diperlukan
Proses berduka tidak berjalan dalam cara yang teratur, tetapi fluktuasainya dengan berbagai aspek dari berbagai tingkat yang muncul pada suatu kesempatan yang lain
Identifikasi dan solusi pemecahan masalah untuk keberadaan respon – respon fisik, misalnya makan, tidur, tingkat aktivitas dan hasrat seksual
Mungkin dibutuhkan tambahan bantuan untuk berhadapan dengan aspek – aspek fisik dari rasa berduka
Kaji kebutuhan orang terdekat dan bantu sesuai petunjuk
Identifikasi dari masalah – masalah berduka disfungsional akan mengidentifikasi intervensi induvidual
Kolaborasi : rujuk sumber – sumber lainnya misalnya konseling, psikoterapi sesuai petunjuk
Mungkin dibutuhkan bantuan tambahan untuk mengatasi rasa berduka, membuat rencana, dan menghadapi masa depan

4.    Dx.4 :
Nyeri akut berhubungan dengan efek test diagnostic
Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri klien berkurang
Kriteria Hasil:
1.    Ekspresi klien terlihat tenang
2.    Napas klien teratur
3.    Skala nyeri 0-3
4.    Ttv dalam rentang normal
5.    Klien mengetahui penyebab nyeri
6.    Kliem mampu menggunakan teknik distraksi relaksasi dengan baik

INTERVENSI
RASIONAL
Lakukan komunikasi terapeutik
kemampuan komunikasi terapeutik seperti aktif mendengarkan, diam, selalu bersedia, dan pemahaman dapat memberikan pasien kesempatan untuk berbicara secara bebas dan berhadapan dengan perasaan
Pantau lokasi, lamanya intensitas dan penyebaran (PQRST)
Perhatikan tanda nonverbal, contoh peningkatan TD dan nadi, gelisah, merintih
Untuk menentukan intervensi selanjutnya
Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan ke staff terhadap karakteristik nyeri
Memberikan kesempatan untuk pemberian analgesik sesuai waktu
Berikan tindakan relaksasi, contoh pijatan, lingkungan istirahat
Menurunkan tegangan otot dan meningkatan koping efektif
Bantu atau dorong penggunaan nafas efektif
Mengarahkan kembali perhatian dan membantu dalam relaksasi otot
Bimbingan imajinasi
Mengontrol aktivitas terapeutik

5.    Dx.5 :
Ketidakberdayaan berhubungan dengan kurang kontrol terhadap prognosis
Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan klien mampu menerima keadaannya
Kriteria Hasil:
1.    Klien mampu Mendemonstrasikan teknik / perubahan gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri
2.    Klien mau Melakukan aktivitas perawatan diri sesuai tingkat kemampuan sendiri
3.    Klien mampu Mengidentifikasi sumber pribadi dan komunitas dalam memberikan bantuan sesuai kebutuhan

INTERVENSI
RASIONAL
Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan untuk melaukan kebutuhan sehari – hari
Membantu dalam mengantisipasi / merencanakan pemenuhan kebutuhan secara individual
Hindari melaukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan
Pasien ini mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermamfaat dalam mencegah frustasi, adalah penting bagi pasien untuk diri sendiri untuk mempertahankan harga diri
Sadari perilaku / aktivitas impulsif karena gangguan dalam mengambil keputusan
Dapat menunjukan kebutuhan intervensi dan pengawasan tambahan untuk meningkatakan keamanan pasien
Pertahankan dukungan, sikap yang tegas, beri pasien waktu yang cukup untuk mengerjakan tugasnya
Pasien akan memerlukan empati tetapi perlu untuk mengetahui pemberi asuhan yang akan membantu pasien secara konsisten

6.    Dx.6 :
Resiko tinggi terhadap kerusakan koping induvidu / keluarga berhubungan dengan metode yang digunakan dalam investigasi fertilitas
Tujuan : setelah tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan kerusakan koping individu tidak terjadi
Kriteria Hasil:
1.    Klien dapat Mengidentifikasi tingkah laku koping yang tidak efektif dan konsekuensi
2.    Klien Menunjukan kewaspadaan dari koping pribadi / kemampuan memecahkan masalah
3.    Klien dapat Memenuhi kebutuhan psikologis yang ditunjukan dengan mengekspresikan perasaan yang sesuai, identifikasi pilihan dan pengguanaan sumber – sumber
4.    Klien mampu Membuat keputusan dan menunjukan kepuasaan dengan pilihan yang diambil.

INTERVENSI
RASIONAL
Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi prilaku
kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan
Kembangkan mekanisme adaptif
mengubah pola hidup seseorang, mengatasi hipertensi kronik, dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari – hari
Bantu klien untuk mengidentifikasi stresor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya
Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respons seseorang terhadap stresor
Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimal dalam rencana pengobatan
Keterlibatan memberikan pasien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping dan dapat meningkatkan kerjasama dalam regimen terapeutik
Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas / tujuan hidup
Fokus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada.
Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu.
Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realisti untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya













BAB IV
PENUTUP

4.1           KESIMPULAN
Ø Infertilitas merupakan suatu ketidakmampuan pasangan untuk mencapai kehamilan setelah 1 tahun hubungan seksual tanpa pelindung (Keperawatan Medikal Bedah).
Ø Infertilitas (pasangan mandul) adalah pasangan suami istri yang telah menikah selama satu tahun dan sudah melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi, tetapi belum memiliki anak. (Sarwono, 2000).
Ø Klasifikasi infertilitas :
1.      Infertilitas Primer
2.      Infertilitas Skunder
Ø Etiologi
1.              Penyebab infertilitas pada perempuan (istri)
a.          Faktor penyakit
ü  Endometriosis
ü  Infeksi Panggul
ü  Mioma Uteri
ü  Polip
ü  Kista
ü  Saluran Telur yang Tersumbat
ü  Sel Telur
b.         Faktor fungsional
ü  Gangguan system hormonal wanita dan dapat di sertai kelainan bawaan (immunologis)
ü  Gangguan pada pelepasan sel telur (ovulasi)
ü  Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran telur)
ü  Gangguan implantasi hasil konsepsi dalam Rahim
c.          Lingkungan
2.              Penyebab pada laki-laki (suami)
a.          Kelainan pada alat kelamin
b.         Kegagalan fungsional
c.          Gangguan di daerah sebelum testis (pretesticular)
d.        Gangguan di daerah testis (testicular)
e.          Gangguan di daerah setelah testis (posttesticular)
f.           Tidak adanya semen
g.         Kurangnya hormon testosterone
h.         Lingkungan
3.         Penyebab pada suami dan istri
a.          Gangguan pada hubungan seksual
b.         Factor psikologis antara kedua pasangan (suami dan istri)

4.2           SARAN
Kami yakin makalah ini banyak kekurangannya maka dari itu kami sangat mengharapkan saran dari teman-teman dalam penambahan untuk kelengkapan makalah ini,karna dari saran yang kami terima dapat mengkoreksi makalah yang kami buat ini.atas saran dari teman-teman kami ucapkan terima kasih.


DAFTAR PUSTAKA
Reeder, Sharon J. 2011. Keperawatan Maternitas; Kesehatan Wanita, Bayi Dan Keluarga, Edisi 18. Jakarta: EGC
Bobak. 2004. Buku ajar keperawatan maternitas edisi 4. Jakarta : EGC
Manuaba.IBG.2001.Kapita selekta penatalaksanaan rutin obstetri ginekologi dan KB. Jakarta:EGC
Benson, Ralph.2008. Buku saku obstetri dan ginekologi.. Jakarta:Arcan
Wiknjosastro.Hanifa.2005.Ilmu Kandungan.Jakarta :YBP-SP
Burner and, suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan. Medikal Bedah edisi 8 volume 2. Jakarta: EGC







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar