Selasa, 20 November 2012

askep orchitis


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Orchitis merupakan reaksi inflamasi akut dari testis sekunder terhadap infeksi. Sebagian besar kasus berhubungan dengan infeksi virus gondong, namun virus lain dan bakteri dapat menyebabkan orchitis.
Insidensi orchitis umumnya ditemukan pada pria prepubertas terutama pasien yang mengalami penyakit gondong. Bakteri yang menyebabkan orchitis antara lain Neisseria gonorrhoeae, Chlamydia trachomatis, Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus, Sterptococcus, bakteri tersebut biasanya menyebar dari epididimitis terkait dalam seksual pria aktif atau laki-laki dengan BPH (Benigna Prostat Hipertrofi).
Untuk menegakkan diagnosis orchitis diperlukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik. Pemeriksaan penunjang tidak terlalu membantu untuk menegakkan diagnosis orchitis. USG dapat membantu menyingkirkan diagnosis lainnya seperti torsio testis.
Penatalaksanaan dari orchitis terutama bersifat suportif karena biasanya sebagian besar pasien orchitis akan kambuh spontan dalam 3-10 hari, kecuali bila penyebabnya bakteri perlu diberikan antibiotik.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana anatomi fisiologi testis?
2.      Apa definisi dari Orchitis?
3.      Bagaimana klasifikasi dari Orchitis?
4.      Bagaimana epidemiologi dari Orchitis?
5.      Apa faktor resiko dari Orchitis?
6.      Apa etiologi dari Orchitis?
7.      Bagimana patofisiologi dari Orchitis?
8.      Apa tanda dan gejala dari Orchitis?
9.      Apa komplikasi dari Orchitis?
10.  Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari Orchitis?
11.  Bagaimana manajemen asuhan keperawatan dari Orchitis?
12.  Bagaimana konsep asuhan keperawatan klien dengan Orchitis?

1.3  Tujuan
Tujuan Umum:
1.      Setelah disusunnya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami konsep asuhan keperawatan klien dengan Orchitis.
Tujuan Khusus:
1.      Mahasiswa dapat memahami anatomi dan fisiologi dari testis
2.      Mahasiswa dapat memahami definisi dari Orchitis
3.      Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi dari  Orchitis
4.      Mahasiswa dapat mengetahui epidemiologi dari Orchitis
5.      Mahasiswa dapat menjelaskan faktor resiko dari Orchitis
6.      Mahasiswa dapat menjelaskan etiologi dari Orchitis
7.      Mahasiswa dapat menjelaskan patofisiologi dari Orchitis
8.      Mahasiswa dapat menjelaskan tanda dan gejala dari Orchitis
9.      Mahasiswa dapat mengetahui komplikasi dari Orchitis
10.  Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan diagnostik dari Orchitis
11.  Mahasiswa dapat menjelaskan manajemen asuhan keperawatan dari Orchitis
12.  Mahasiswa dapat mengetahui konsep asuhan keperawatan pasien dengan Orchitis



BAB II
KONSEP MEDIS

2.1  Anatomi Dan Fisiologi Testis
Menurut Snell, 2000 testis merupakan organ kelamin pria, terletak dalam scrotum. Testis akan turun sekitar umur janin 7 bulan menuju scrotum melalui canalis inguinalis dibawah pengaruh hormon testosterone dari testis.
Testis sinistra biasanya terletak lebih rendah daripada testis dextra. Masing-masing testis dikelilingi capsula fibrosa yang kuat disebut tunica albuginea. Dari permukaan dalam capsula terbentang banyak septa fibrosa yang membagi bagian dalam testis menjadi lobules-lobulus testis. Didalam setiap lobules terdapat 1-3 tubuli seminiferi yang berkelok-kelok. Tubuli seminiferi bermuara ke rete testis, ductuli efferentes, dan epididimis.
Pengaturan suhu testis didalam scrotum dilakukan oleh kontraksi musculus dartos dan cremaster yang apabila berkontraksi akan mengangkat testis mendekat ke tubuh. Temperatur testis dalam scrotum selalu dipertahankan dibawah temperature suhu tubuh 2-3 C untuk kelangsungan spermatogenesis. Molekul besar tidak dapat menembus ke lumen (bagian dalam tubulus) melalui darah, karenaadanya ikatan yang kuat antar sel sertoli yang disebut sawar darah testis. Fungsi dari sawar darah testis adalah untuk mencegah reaksi auto-imun. Tubuh dapat membuat antibodi melawan spermanya sendiri, maka hal ini dicegah dengan sawar.
Selama masa pubertas, testis berkembang untuk  memulai spermatogenesis. Testis berperan pada sistem reproduksi dan sistem endokrin. Fungsi testis:
-          Spermatogenesis terjadi dalam tubulus seminiferus, diatur FSH
-          Sekresi testosterone oleh sel leydig, diatur oleh LH

Gambar 2.1: Anatomi Testis

2.2  Definisi
Orchitis adalah suatu inflamasi testis (kongesti testikular), biasanya disebabkan oleh faktor-faktor piogenik, virus, spiroseta, parasit, traumatis, kimia atau faktor yag tidak diketahui ( Smeltzer, 2002).
Orchitis adalah peradangan testis yang jika bersama dengan epididimitis menjadi epididimoorkitis dan merupakan komplikasi yang serius dari epididimitis (Price, 2005).
Orchitis merupakan peradangan satu atau kedua testis, ditandai dengan pembengkakan dan nyeri. Keadaan ini sering disebabkan oleh parotitis, sifilis, atau tuberculosis (Hartanto, 2008).








                        Gambar 2.2: Orchitis
2.3  Klasifikasi
Menurut Price, 2005 infeksi testis diklasifikasikan sebagai:
1.      Orchitis viral
2.      Orchitis bacterial piogenik atau orchitis granulomatosa
                                                                                   
2.4  Epidemiologi
Epidimologi menurut Ulfiyah, 2012 adalah:
1.      Kejadian diperkirakan 1 diantara 1.000 laki-laki
2.      Dalam orchitis gondong, 4 dari 5 kasus terjadi pada laki-laki prepubertal (lebih muda dari 10 tahun)
3.      Dalam orchitis bakteri, sebagian besar kasus berhubungan dengan epididimitis (epididimo-orchitis), dan mereka terjadi pada laki-laki yang aktif secara seksual lebih tua dari 15 tahun atau pada pria lebih tua dari 50 tahun dengan hipertrofi prostat jinak (BPH)
4.      Di Amerika Serikat sekitar 20% dari pasien prepubertal dengan gondong berkembang orchitis. Kondisi ini jarang terjadi pada laki-laki postpubertal dengan gondong.
        Gambar 2.3: Contoh orchitis pada usia 81 tahun

2.5  Faktor Resiko
Menurut Ulfiyah, 2012 faktor resiko pada orchitis ada dua yaitu:
1.      Faktor resiko untuk orchitis yang tidak berhubungan dengan penyakit menular seksual adalah :
a.        Imunisasi gondongan yang tidak adekuat
b.       Usia lanjut (lebih dari 45 tahun)
c.         Infeksi saluran berkemih berulang
d.      Kelainan saluran kemih
2.      Faktor resiko untuk orkitis yang berhubungan dengan penyakit menular seksual adalah:
a.       Berganti-ganti pasangan
b.      Riwayat penyakit menular seksual pada pasangan
c.        Riwayat gonore atau penyakit menular seksual lainnya

2.6  Etiologi
Penyebab orchitis bisa piogenik bakteria, gonokokokus, basil tuberkal, atau virus seperti paramiksovirus, penyebab dari gondongan (parotitis). Sekitar 20% dari orchitis timbul sebagai komplikasi dari gondongan (parotitis) setelah pubertas (Baradero, 2006)
Menurut Price, 2005 virus adalah penyebab orchitis yang paling sering. Orchitis parotiditis adalah infeksi virus yang paling sering terlihat, walaupun imunisasi untuk mencegah parotiditis pada masa anak-anak telah menurunkan insiden. 20-30% kasus parotiditis pada orang dewasa terjadi bersamaan dengan orchitis, terjadi bilateral pada sekitar 15% pria dengan orkitis parotiditis. Pada laki-laki pubertas atau dewasa, biasanya terdapat kerusakan tubulus seminiferus dengan resiko infertilitas, dan pada beberapa kasus, terdapat kerusakan sel-sel leydig yang mengakibatkan hipogonadisme difesiensi testosterone. Orchitis paroditisis jarang terjadi pada laki-laki prapubertas, namun bila ada, dapat diharapkan kesembuhan yang sempurna tanpa disfungsi testiskular sesudahnya. Virus lain yang dapat menyababkan orchitis dan memberikan gambaran klinis yang sama adalah : virus Coxsakie B, Varisela, dan mononukleosis.
Orchitis bakterial piogenik disebabkan oleh bakteri (Escherichia coli, Klebsiella pneumonia, Pseudmonas aeruginosa) dan infeksi parasitik (malaria, filariasis, skistosomiasis, amebiasis) atau kadang-kadang infeksi riketsia yang ditularkan pada epididimitis. Seseorang dengan orchitis parotiditis terlihat sakit akut dengan demam tinggi, edema, peradangan hidrokel akut, dan terdapat nyeri skrotum yang menyebar ke kanalisis inguinalis. Komplikasinya termasuk infark testis, abses, dan terdapatnya pus dalam skrotum.
Orchitis granulomaktosa dapat disebabkan oleh sifilis, penyakit mikrobakterial, aktinomikosis, penyakit jamur, mycobacterium tuberculosis, dan mycobacterium leprae. Infeksi dapat menyebar melalui funikulus spermatikus menuju testis. Penyebaran selanjutnya melibatkan epididimis dan testis, kandung kemih, dan ginjal.

2.7  Patofisiologi
Kebanyakan penyebab orchitis pada laki-laki yang sudah puber adalah gondongan (mumps), dimana manifestasinya biasanya muncul mendadak dalam 3 sampai 4 hari setelah pembengkakan kelenjar parotis. Virus parotitis juga dapat mengakibatkan orchitis sekitar 15 % – 20% pria  menderita orchitis akut bersamaan dengan parotitis. Anak laki-laki pra pubertas dengan orchitis parotitika dapat diharapkan untuk sembuh tanpa disertai disfungsi testis. Pada pria dewasa atau pubertas, biasanya terjadi kerusakan tubulus seminiferus dan pada beberapa kasus merusak sel-sel leydig, sehingga terjadi hipogonadisme akibat defisiensi testosteron. Ada resiko infertilitas yang bermakna pada pria dewasa dengan orchitis parotitika. Tuberkukosis genitalia yang menyebar melalui darah biasanya berawal unilateral pada kutub bawah epididimis. Dapat terbentuk nodula-nodula yang kemudian mengalami ulserasi melalui kulit. Infeksi dapat menyebar melalui fenikulus spermatikus menuju testis. Penyebaran lebih lanjut terjadi pada epididimis dan testis kontralateral, kandung kemih, dan ginjal. (Price, 2005)
2.8 
Orchitis
Pembengkakan
gg. rasa nyaman nyeri
Kerusakan tubulus seminiferus
Kerusakn sel  leydig
Testosterone menurun
Hipogonadisme
Infertilitas
HDR (harga diri rendah)
Kemerahan pada testis
Proses inflamasi
Hipertermi
Gg pada sistem urinaria
Perubahan pola eliminasi
Infeksi pada saluran kemih
Nyeri
Menyebar hingga kepangkal  paha
Pembengkakan pada pangkal paha
 Nyeri saat hubungan seksual
Gg pemenuhan kebutuhan seksual
Virus
Bakteri
Testis
Pathway


 



2.9  Tanda dan gejala
Menurut Price, 2005 tanda dan gejala orchitis berkisar dari ketidaknyamanan ringan pada testikular dan edema hingga nyeri testicular yang parah dan terbentuknya edema dalam waktu sekitar 4 hingga 6 hari setelah awitan penyakit dengan demam tinggi, mual, dan muntah.
Gejala yang dirasakan meliputi nyeri pada testis hingga ke pangkal paha, pembengkakan dan kemerahan pada testis, menggigil, dan demam yang dapat bilateral atau unilateral, mual, muntah, nyeri saat buang air kecil dan nyeri saat hubungan seksual, darah pada semen. Keadaan ini dapat berakibat steril atau impotensi. Terapi terhadap inflamasi ini dengan istirahat di tempat tidur, kompres panas atau hangat, dan antibiotik (bila perlu).

2.10          Komplikasi
Menurut Price, 2005 komplikasi dari orchitis dapat berupa:
1.      Testis yang mengecil (Atrofi)
2.      Abses (Nanah) pada kantong testis
3.      Infertilitas (Sulit memiliki keturunan), terutama jika orkhitis terjadi pada kedua testis.

Menurut Ulfiyah, 2012 komplikasi dari orchitis adalah:
1.      Sampai dengan 60% dari testis yang terkena menunjukkan beberapa derajat  atrofi testis.
2.      Gangguan kesuburan dilaporkan 7-13%.
3.      Kemandulan jarang dalam kasus-kasus orchitis unilateral.
4.      Hidrokel communican atau pyocele mungkin memerlukan drainase bedah untuk mengurangi tekanan dari tunika.
5.      Abscess scrotalis
6.      Infark testis
7.      Rekurensi
8.      Epididimitis kronis
9.      Impotensi tidak umum setelah epididimitis akut, walaupun kejadian sebenarnya yang didokumentsikan tidak diketahui. Gangguan dalam kualitas sperma biasanya hanya sementara.
10.  Yang lebih penting adalah azoospermia yang jauh lebih tidak umum, yang disebabkan oleh gangguan saluran epididimal yang diamati pada laki-laki penderita epididimitis yang tidak diobati dan yang diobati tidak tepat. Kejadian kondisi ini masih belum diketahui.

2.11          Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Ulfiyah, 2012 pemeriksaan diagnostic pada pasien orchitis:
1.      Pemeriksaan urin kultur
2.      Urethral smear (tes penyaringan untuk klamidia dan gonorhoe)
3.      Pemeriksaan darah CBC (complete blood count)
4.      Dopller ultrasound, untuk mengetahui kondisi testis, menentukan diagnosa dan mendeteksi adanya abses pada skrotum
5.      Testicular scan
6.      Analisa air kemih
7.      Pemeriksaan kimia darah

2.12          Manajemen asuhan keperawatan
Menurut Baradero, 2006 manajemen asuhan keperawatan pada orchitis ada dua:
1.      Kolaboratif
Pria dewasa atau anak pasca-pubertas perlu diberi gamma globulin apabila ada kemungkinan kontak dengan penderita gondongan kecuali apabila ia pernah mengalami gondongan atau sudah menerima vaksin untuk gondongan. Apabila ada keraguan, gamma globulin harus diberikan. Gamma globulin tidak akan mencegah gondongan tetapi bisa membuat serangan gondongan menjadi lebih ringan dan komplikasi dapat dicegah.
Apabila ada hidrokel, cairan bisa diaspirasi untuk mengurangi tekanan pada testis. Antibiotika spektrum luas dapat diberikan. Obat anti-inflamasi nonsteroid dapat diberikan untuk mengurangi pembengkaakan dan rasa nyeri.
2.      Mandiri
Penyuluhan pasien, fokus dari pendidikan kesehatan adalah mengurangi rasa nyeri, pembengkakan, dan gejala sistemis. Selama ada pembengkakan scrotum, pasien diberi tirah baring, dan scrotum dapat ditinggikan dengan handuk.






BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1  Pengkajian
A.    Identitas
Nama, umur, alamat, jenis kelamin, agama, suku, bangsa, pekerjaan, no. MRS, diagnose medis.

B.     Riwayat Kesehatan
1.      Keluhan Utama: Biasanya pasien orchitis mengeluh testis mengalami pembengkakan disertai nyeri dan warna kemerahan pada daerah testis yang terkena, selain itu testis terasa berat dan penuh.
2.      Riwayat penyakit sekarang: Biasanya pasien mengalami demam, rasa lemah, nyeri otot, tubuh terasa tidak nyaman, mual, dan sakit kepala
3.      Riwayat penyakit dahulu: Perlu dikaji imunisasi gondongan yang tidak adekuat,   infeksi saluran berkemih berulang, kelainan saluran kemih, riwayat penyakit menular seksual pada pasangan,  riwayat gonore atau penyakit menular seksual lainnya. Biasanya pasien mempunyai riwayat gondongan.
4.      Riwayat penyakit keluarga: perlu dikaji apakah keluarga juga pernah mengalami penyakit yang sama dengan pasien.
5.      Riwayat lingkungan: Biasannya klien tinggal di lingkungan yang kurang bersih atau kumuh yang dapat menyebabkan infeksi.

C.    Pemeriksaan fisik
1.      Keadaan umum: biasanya  composmentis
2.      TTV:
TD: biasanya meningkat (N:120/80 mmHg)
Nadi: biasanya meningkat (N: 100x/menit)
RR:biasanya normal (N: 16-20x/menit)
S: biasanya meningkat (N: 36,5-37.5oC)

3.      Review of system
a.      B1 (Breath)
Biasanya pasien dengan orchitis tidak di temukan masalah pada sistem pernafaan. Kecuali jika ada penyakit yang menyertai atau kemungkinan komplikasi.
b.      B2 (Blood)
Biasanya pasien dengan orchitis didapatkan peningkatan tekanan darah dan nadi.
c.       B3 (Brain)
Biasanya pasien dengan orchitis GCS composmentis dan terdapat sakit kepala.
d.      B4 (Bladder)
Biasanya pada pemeriksaan nampak testis yang membesar, konsistensinya kenyal, namun dapat juga mengeras, tampak merah, epididimis membesar, dan kulit skrotum meregang, nyeri pada testis hingga ke pangkal paha, mual, muntah, nyeri saat buang air kecil dan nyeri saat hubungan seksual, darah pada semen
e.       B5 (Bowel)
Biasanya pasien dengan orchitis mengalami mual dan muntah.
f.       B6 (Bone)
Biasanya pasien dengan orchitis mengalami rasa lemah, nyeri otot, tubuh terasa tidak nyaman.



D.    Pola fungsi kesehatan
1.      Pola nutrisi dan metabolism
Biasanya klien mengalami penurunan nafsu makan karena mual, muntah saat makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidak makan sama sekali.
2.      Pola eliminasi
Eliminasi alvi klien tidak mengalami konstipasi atau diare.Sedangkan eliminasi urine mengalami gangguan yaitu nyeri waktu berkemih.
3.      Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Biasanya pasien mengatakan kesehatan merupakan hal yang penting, jika ada keluarga yang sakit maka akan segera dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat.
4.      Pola aktifitas dan latihan
Biasanya aktivitas klien akan terganggu karena adanya rasa nyeri yang diderita.
5.      Pola tidur dan istirahat
Biasanya pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan dengan nyeri.
6.      Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan penyakitnya dan ketakutan merupakan dampak psikologi klien. Pada konsep diri pasien mengalami harga diri rendah karena komplikasi yang diderita seperti infertil.
7.      Pola persepsi sensori dan kognitif
Biasanya pasien tidak mengalami gangguan dalam persepsi.
8.      Pola reproduksi seksual
Biasanya pasien mengalami gangguan pada reproduksi seksual.



9.      Pola hubungan dan peran
Biasanya hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan dengan klien dirawat di rumah sakit dan klien harus bedrest total.
10.  Pola penanggulangan stress
Biasanya klien sering melamun dan merasa sedih karena keadaan sakitnya.
11.  Pola tata nilai dan kepercayaan
Biasanya dalam hal beribadah biasanya terganggu karena bedrest total tapi pasien yakin akan cepat sembuh dan menganggap ini merupakan cobaan dari Allah SWT.

E.     Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penderita orkhitis antara lain:
1.      Pemeriksaan urin
2.      Pemeriksaan discharge uretra untuk mengetahui mikroorganisme penyebab
3.      Sistoskopi, pielografi intravena, dan sistografi dapat dilakukan jika dicurigai adanya patologi pada kandung kemih.

3.2  Diagnosa keperawatan
1.      Hipertermi b.d proses inflamasi
2.      Nyeri b.d infeksi pada saluran kemih
3.      Perubahan pola eliminasi urin b.d gangguan pada sistem urinaria
4.      Gg pemenuhan kebutuhan seksual b.d nyeri pada saat hubungan seksual
5.      Gg harga diri rendah b.d infertilitas



3.3  Rencana asuhan keperawatan
Diagnosa 1
Hipertermi b.d proses inflamasi
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan suhu tubuh klien kembali normal
Kriteria Hasil:
a.       Suhu tubuh klien dalam rentang normal (36,5 C-37,5 C),
b.      Klien tidak tampak menggigil,
c.       Klien melaporkan panas badannya turun,
d.      Tidak tampak pembengkakan pada skrotum
e.       Tidak terdapat kemerahan di kulit sekitar skrotum klien
f.       Nadi klien dalam batas normal (60-100 x/menit)
Intervensi
Rasional
1.      Monitor suhu tubuh, tekanan darah, nadi, dan respirasi secara berkala (minimal tiap 2 jam)

2.      Pantau suhu lingkungan, batasi penggunaan selimut.


3.      Berikan kompres hangat



4.      Anjurkan klien untuk mempertahankan asupan cairan adekuat

5.      Berikan antipiretik dan antibiotic sesuai indikasi

1.      Suhu diatas 37,5C menunjukkan proses penyakit infeksius akut. Menggigil sering mendahului puncak suhu.
2.      Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
3.      Membuat vasodilatasi pembuluh darah sehingga dapat membantu mengurangi demam
4.      Untuk mencegah dehidrasi akibat penguapan cairan karena suhu tubuh yang tinggi
5.      Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus



Diagnosa 2
Nyeri b.d infeksi pada saluran kemih
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri klien berkurang
Kriteria Hasil:
a.       Klien tampak rileks
b.      Klien dapat beristirahat
c.       Skala nyeri 0-3
d.      TTV dalam rentang normal
e.       Pasien mengetahui penyebab nyeri
Intervensi
Rasional
1.      Catat lokasi, lamanya intensitas (skala 0-10) dan penyebaran. Perhatikan tanda non verbal, contoh peninggian TD dan nadi, gelisah, merintih, menggelepar.



2.      Observasi TTV


3.      Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan ke perawat terhadap perubahan kejadian/ karakteristik nyeri.






4.      Berikan tindakan nyaman


5.      Bantu atau dorong penggunaan distraksi  dan aktivitas terapeutik.


6.      Kolaborasi dalam pemberian analgesik
1.      Membantu mengevaluasi tempat dan kemajuan gerakan kalkulus. Nyeri panggul sering menyebar ke punggung , lipat paha, genitelia, sehubungan dengan proksimitas saraf  pleksus dan pembuluh darah yang mencetuskan ketakutan, gelisah, ansietas berat.
2.      Mengetahui perkembangan lebih lanjut
3.      Memberikan kesempatan untuk pemberian analgesic sesuai waktu (membantu dalam peningkatan kemampuan koping pasien dan dapat menurunkan ansietas) dan mewaspadakan perawat akan kemungkinan terjadi komplikasi.
4.      Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot, dan meningkatkan koping.
5.      Mengarahkan kembali perhatian dan membantu dalam relaksasi otot.
6.      Untuk mengurangi nyeri dan rasa tidak nyaman.
Diagnosa 3
Perubahan pola eliminasi urin b.d gangguan pada sistem urinaria
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan maslah teratasi
Kriteria Hasil:
a.       Berkemih dengan jumlah normal dan pola biasa
b.      Klien akan menunjukan perilaku yang meningkatkan kontrol kandung kemih.
c.       Tidak terdapat bekuan darah sehingga urine lancar lewat kateter.
Intervensi
Rasional
1.      Kaji kebiasaan pola eliminasi urine klien

2.       Kaji terhadap tanda dan gejala retensi urine: jumlah dan frekuensi urine, distensi supra pubis, keluhan tentang dorongan untuk berkemih dan ketidak nyamanan
3.      Lakukan kateterisasi pada pasien untuk menunjukan jumlah urine residu
4.      Awasi pemasukan, pengeluaran dan karakteristik urine.




5.      Kolaborasi ambil urine untuk kultur urine dan sensitivitas.
1.      Merupakan nilai dasar untuk perbandingan dan menetapkan tujuan lebih lanjut
2.      Berkemih 20-30cc dengan teratur dan haluaran kurang dari masukan adalah tanda retensi urine


3.      Menetapkan jumlah urine yang tersisa

4.      Memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi, contoh infeksi dan perdarahan. Perdarahan dapat  mengindikasikan peningkatan obstruksi / iritasi ureter
5.      Menentukan adanya ISK, dari gejala komplikasi.



BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Testis merupakan organ kelamin pria, terletak dalam scrotum. Fungsi testis: Spermatogenesis terjadi dalam tubulus seminiferus, diatur FSH dan sekresi testosterone oleh sel leydig, diatur oleh LH (Menurut Snell, 2000).
Orchitis adalah suatu inflamasi testis (kongesti testikular), biasanya disebabkan oleh faktor-faktor piogenik, virus, spiroseta, parasit, traumatis, kimia atau faktor yag tidak diketahui ( Smeltzer, 2002).
Klasifikasi dari orchitis adalah: Orchitis viral danOrchitis bacterial piogenik atau orchitis granulomatosa.
Dalam orchitis gondong, 4 dari 5 kasus terjadi pada laki-laki prepubertal (lebih muda dari 10 tahun).
Faktor resiko dari orchitis ada 2: faktor resiko untuk orchitis yang tidak berhubungan dengan penyakit menular seksual dan faktor resiko untuk orkitis yang berhubungan dengan penyakit menular seksual.
Penyebab dari orchitis dapat terjadi karena bakteri dan virus.
Gejala yang dirasakan meliputi nyeri pada testis hingga ke pangkal paha, pembengkakan dan kemerahan pada testis, menggigil, dan demam yang dapat bilateral atau unilateral, mual, muntah, nyeri saat buang air kecil dan nyeri saat hubungan seksual, darah pada semen.
Komplikasi dari Orchitis adalah testis yang mengecil (Atrofi), abses (Nanah) pada kantong testis, infertilitas.
Pemeriksaan diagnostik dari Orchitis adalah pemeriksaan urin kultur, urethral smear (tes penyaringan untuk klamidia dan gonorhoe), pemeriksaan darah CBC (complete blood count), dopller ultrasound, untuk mengetahui kondisi testis, menentukan diagnosa dan mendeteksi adanya abses pada skrotum, testicular scan, analisa air kemih, pemeriksaan kimia darah.
Manajemen asuhan keperawatan dalam orchitis ada dua, yaitu kolaboratif dan mandiri.
Diagnosa keperawatan pada pasien dengan Orchitis adalah:
a.       Hipertermi b.d proses inflamasi
b.      Nyeri b.d infeksi pada saluran kemih
c.       Perubahan pola eliminasi urin b.d gangguan pada sistem urinaria
d.      Gg pemenuhan kebutuhan seksual b.d nyeri pada saat hubungan seksual
e.       Gg harga diri rendah b.d infertilitas


4.2  Saran
Penulis memberi saran agar dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan Orchitis, perawat bisa lebih berhati-hati supaya tidak komplikasi dengan memahami tentang konsep medis dari kelainan ini, sehingga dapat melakukan asuhan keperawatan secara maksimal.





DAFTAR PUSTAKA

Baradero, Mary Dkk. 2006. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan System Reproduksi & Seksualitas. Jakarta: EGC
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3. Jakarta: EGC.
Hartanto, Huriawati. 2008. Kamus Saku Mosby: Kedokteran, Keperawatan & Kesehatan. Edisi 4. Jakarta: EGC
Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6 Vol 2. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Volume 2. Jakarta: EGC
Snell, R. A. 2000. Anatomi Klinik. Edisi 6. Jakarta: EGC
Ulfiyah, Hamidatu. 2012. Askep orchitis. http://ulphi09.blogspot.com/2012/10/askep-orchitis_8890.html. Diakses: 18 oktober 2012, jam 14.20 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar